Minggu, 30 Desember 2018

Tugas Penulisan Ekonomi Koperasi Minggu 7


TUGAS PENULISAN EKONOMI KOPERASI
MENGANALISIS PERHITUNGAN SISA HASIL USAHA
MINGGU 7
NAMA            : HILDA FEBRIANTI
KELAS           : 3EA27
NPM               : 13216308
1.      Definisi Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi
SHU Koperasi adalah sebagai selisih dari seluruh pemasukan atau penerimaan total (total revenue ) atau biasa dilambangkan (TR) dengan biaya-biaya atau biaya total (total cost) dengan lambang (TC) dalam satu tahun waktu. Lebih lanjut pembahasan mengenai pengertian koperasi bila ditinjau menurut UU No.25/1992, tentang perkoperasian, Bab IX, pasal 45 adalah sebagai berikut:
Dalam proses penghitungannya, nilai SHU anggota dapat dilakukan apabila beberapa informasi dasar diketahui sebagai berikut:
1.      SHU total kopersi pada satu tahun buku.
2.      bagian (persentase) SHU anggota.
3.      total simpanan seluruh anggota.
4.      total seluruh transaksi usaha ( volume usaha atau omzet) yang bersumber dari anggota.
5.      jumlah simpanan per anggota.
6.      omzet atau volume usaha per anggota
7.      bagian (persentase) SHU untuk simpanan anggota
8.      bagian (persentase) SHU untuk transaksi usaha anggota.

2.      Rumus Perhitungan Sisa Hasil Usaha (SHU)
Berikut ini rumus cara menghitung SHU koperasi lengkap beserta dengan penjelasanya :
SHU Koperasi = Y + X

Keterangan:
SHU Koperasi Sisa Hasil Usaha Anggota
Y                                  SHU Koperasi yang dibagi atas Aktivitas Ekonomi
X                                  SHU Koperasi yang dibagi atas Modal Usaha

SHU Anggota dengan model matematika, dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

SHU Koperasi Aktivitas Ekonomi: Ta/Tk (Y)
Dan,

SHU Koperasi Modal Usaha: Sa/Sk (X)
Keterangan:
Y
Jasa usaha anggota koperasi
X
Jasa modal anggota koperasi
Ta
Total transaksai anggota koperasi
TK
Total transaksi koperasi
Sa
Jumlah simpanan anggota koperasi
SK
Total simpanan anggota koperasi










a.                  Contoh Perhitungan Sisa Hasil Usaha (SHU)
Koperasi “Amanah Umat” memiliki dana sebesara Rp.100.000.000,- dana ini berasal dari simpanan pokok dan simpanan wajib para anggotanya. Koperasi menyajikan perhitungan laba rugi pada 31 Desember 2017 sebagai berikut :
Khusus Anggota:
Penjualan                               Rp.460.000.000,-
Harga Pokok Penjualan       Rp.400.000.000,-
Laba Kotor                            Rp.60.000.000,-
Biaya Usaha                           Rp.20.000.000,-
Laba Bersih                           Rp.40.000.000,-
Berdasarkan RAT, SHU dibagi sebagai berikut:
Untuk Cadangan Koperasi     40%
Jasa Anggota                           25%
Jasa Modal                              20%
Dan jasa lain-lain                     15%
Kerjakan atau buatlah :
  1. Perhitungan Pembagian SHU
  2. Jurnal Pembagian SHU
  3. Perhitungan Persentase Modal
  4. Perhitugan persentas jasa anggota
  5. Berapakah SH U yang diterima tuan Alex anggota koperasi, apabila simpanan pokok dan simpanan wajib tuan Alex sebesar Rp.500.000, dan tuan Alex telah berbelanja di koperasi Amanah Umat sebesar Rp.920.000,-
Jawab:
1.      Diketahui Perhitungan SHU :
Laba Bersih atau SHU                                 Rp.40.000.000,-
Cadangan Koperasi              40%                Rp.16.000.000,-
Jasa Anggota                         25%                Rp.10.000.000,-
Jasa Modal                             20%                Rp.8.000.000,-
Jasa Lain-lain                                    15%                Rp.6.000.000,-
Total                                       100%              Rp.40.000.000,-

2.      Dari perhitungan di atas kita mendapat jurnal sebagai berikut :
SHU                                        Rp.40.000.000,-
Cadangan Koperasi              Rp.16.000.000,-
Jasa Anggota                         Rp.10.000.000,-
Jasa Modal                             Rp.8.000.000,-
Jasa Lain-lain                                    Rp.6.000.000,-

3.      Persentase Jasa Modal :
Dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Persentase Jasa Modal = (Jasa Modal / total modal) x 100%

Persentase Jasa Modal = (8.000.000/10.000.000) x 100%
Persentase Jasa Modal = 8%

4.      Persentase Mencari  Jasa  Anggota
Untuk mendapatkan persentase dari jasa anggota kita dapat menggunakan rumus sebgai berikut :
Persentase Jasa Anggota = (SHU Jasa Anggota/Total  penjualan Koperasi) x 100%
Persentase Jasa Anggota = (10.000.000 / 460.000.000) x 100%
Persentase Jasa Anggota = 2,17%
Catatan: “Perhitungan diatas berlaku untuk koperasi konsumsi, sedangkan untuk koperasi simpan pinjam total penjualan diganti dengan total pinjaman.”
5.      Yang diterima Tuan Alex :

Jasa Modal = (Bagian SHU jasa modal/Total modal) x Modal Tuan Alex

Jasa Modal = (8.000.000/100.000.000) x 500.000
Jasa Modal = Rp.40.000,-

Jasa Anggota = (Bagian jasa Modal anggota/total penjualan koperasi) x total belanja

Jasa Anggota = (10.000.000/460.000.000,-) x 920.000
Jasa Anggota = Rp.20.000,-

Jadi tuan alex menerima uang hasil SHU sebesar = jasa modal+ jasa aggota
SHU yang diterima = Rp.40.000+Rp.20.000
SHU yang diterima = Rp60.000,-

Tugas Penulisan Ekonomi Koperasi Minggu 6


TUGAS PENULISAN EKONOMI KOPERASI
MENGIDENTIFIKASI DAN MENGENAL KINERJA
KOPERASI DI INDONESIA
MINGGU 6

NAMA            : HILDA FEBRIANTI
KELAS           : 3EA27
NPM               : 13216308

Kinerja Koperasi Di Indonesia
1.      Pengertian Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja adalah proses di mana organisasi menetapkan parameter hasil untuk dicapai oleh program, investasi, dan akusisi yang dilakukan. Proses pengukuran kinerja seringkali membutuhkan penggunaan bukti statistik untuk menentukan tingkat kemajuan suatu organisasi dalam meraih tujuannya.
2.      Prinsip Pengukuran Kinerja
·         Kendali yang efektif. Seluruh aktivitas kerja yang signifikan harus diukur.
·         Pekerjaan yang tidak diukur atau dinilai tidak dapat dikelola karena darinya tidak ada informasi yang bersifat obyektif untuk menentukan nilainya.
·         Kerja yang tak diukur sebaiknya diminimalisir atau bahkan ditiadakan.
·         Keluaran  kinerja yang diharapkan harus ditetapkan untuk seluruh kerja yang diukur.
·         Hasil keluaran menyediakan dasar untuk menetapkan akuntabilitas hasil alih-alih sekedar mengetahui tingkat usaha.
·         Mendefinisikan kinerja dalam artian hasil kerja semacam apa yang diinginkan adalah cara manajer dan pengawas untuk membuat penugasan kerja operasional.
·         Pelaporan kinerja dan analisis variansi harus dilakukan secara periodik.
·         Pelaporan yang kerap memungkinkan adanya tindakan korektif yang segera dan tepat waktu.
·         Tindakan korektif yang tepat waktu begitu dibutuhkan untuk manajemen.
3.      Variabel Yang Memengaruhi Kinerja
ü  Faktor individu (personal factors)
ü  Faktor kepemimpinan (leadership factors)
ü  Faktor kelompok / rekan kerja (team factors)
ü  Faktor sistem (system factors)
ü  Faktor situasi (contextual/situational factors)
4.      Variabel Kinerja Koperasi
Secara umum, variabel kinerja koperasi yang diukur untuk melihat perkembangan atau pertumbuhan (growth) koperasi di Indonesia terdiri dari:
1        Kelembagaan (Jumlah koperasi per provinsi, jumlah koperasi per jenis atau kelompok koperasi, jumlah koperasi aktif dan nonaktif),
2        Keanggotaan,
3        Volume usaha,
4        Permodalan,
5        Asset, dan
6        Sisa Hasil Usaha (SHU)
Variabel – variabel tersebut pada dasarnya belum dapat mencerminkan secara tepat untuk digunakan dalam melihat peranan atau pangsa (share) koperasi terhadap pembangunan ekonomi nasional. Demikian pula dampak dari koperasi (cooperative effect) terhadap peningkatan kesejahteraan anggota atau masyarakat belum tercermin dari variabel-variabel yang disajikan. Dengan demikian, variabel kinerja koperasi yang diuraikan pada diatas cenderung hanya dijadikan sebagai salah satu alat untuk melihat perkembangan koperasi sebagai badan usaha.
Jumlah Koperasi
Penataan  kelembagaan koperasi dilakukan pada awal Kabinet Refolmasi Pembangunan, yaitu bulan Juni 1998. Penataan kelembaggan yang dimaksud adalah pendataan ulang data koperasi yang ada. Dalam pendataan ulang tersebut diidentifikasikan koperasi yang terdaftar, kemudian dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu Koperasi yang aktif dan Koperasi yang tidak aktif.
Koperasi tidak aktif adalah koperasi yang dalam dua tahun terakhir secara berturut-turut tidak melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan atau tidak malakukan kegiatan usaha. Dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 1998 tentang Pemberdayaan Koperasi, masyarakat diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk membentuk koperasi. Hal ini merupakan reformasi kebijakan dimana sebelumnya di pedesaan hanya dibuka kesempatan untuk mendirikan Koperasi Unit Desa (KUD).
Anggota Koperasi
Jumlah anggota koperasi aktif tahun 1998 adalah 20,127 juta atau meningkat 2,14 persen dari tahun 1997. Pada bulan Juni 1999, jumlah tersebut berkembang menjadi 21.959.118, yang berarti meningkat 9,65 persen dari tahun sebelumnyaatau 14,43 persen dari tahun 1997.
Rata-rata pertumbuhan total anggota koperasi primer selama 3 tahun terakhir ( 1997-1999) adalah sebesar 6,7 persen per tahun. Sedangkan untuk koperasi sekunder rata-rata pertumbuhannya cukup besar, yaitu sebesar 42,13 persen per tahun.
Volume Usaha Koperasi
Volume usaha adalah total nilai penjualan atau penerimaan dari barang atau jasa pada suatu periode atau tahun buku yang bersangkutan. Dengan demikian, volume usaha koperasi adalah akumulasi nilai penerimaan barang dan jasa sejak awal tahun buku ( Januari ) sampai dengan akhir tahun buku ( Desember). Pada hakekatnya, aktivitas ekonomi koperasi dapat dilihat dari besaran volume usaha koperasi itu sendiri.
Aset Koperasi
Aset koperasi pada tahun 1997 adalah Rp. 9.254,6 miliyar, meningkat 2,14 persen menjadi Rp 9.452,8 miliyar pada tahun 1998. Pada Juni 1999, aset koperasi adalah Rp 14.588,2 miliyar, yang berarti naik 54,33% dari tahun 1998 dan naik 57,63% dari tahun 1997.

Ekonomi Koperasi Tugas Minggu 10


MAKALAH EKONOMI KOPERASI
ARTI MODAL, SUMBER MODAL, DAN
DISTRIBUSI CADANGAN KOPERASI
MINGGU 10

Di susun Oleh :

Nama              : HILDA FEBRIANTI
NPM               : 13216308

Kelas : 3EA27

FAKULTAS ILMU EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2018


KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Kami panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-NyA kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini sudah kami susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari segala hal tersebut, Kami sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya kami dengan lapang dada menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat maupun inspirasi untuk pembaca.
Bekasi,  25 Desember 2018

Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1              LATAR BELAKANG………………………………………………………..1
1.2              RUMUSAN MASALAH………………..…………………………………….2
1.3              TUJUAN PENULISAN…………………...…………………………………..2
1.4              MANFAAT PENULISAN……………………………………………………2
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1              ARTI MODAL BAGI KOPERASI……………………………..…………….3
2.2       SUMBER MODAL KOPERASI………………………………………..…….3
2.3       DISTRIBUSI CADANGAN KOPERASI………………….…………………6

BAB 3 PENUTUP
3.1       KESIMPULAN………………………………………………………………8
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….9


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Keberadaan beberapa koperasi telah dirasakan peran dan manfaatnya bagi masyarakat, walaupun derajat dan intensitasnya berbeda. Setidaknya terdapat tiga tingkat bentuk eksistensi koperasi bagi masyarakat. Pertama, koperasi dipandang sebagai lembaga yang menjalankan suatu kegiatan usaha tertentu dan kegiatan usaha tersebut diperlukan oleh masyarakat. Kegiatan usaha dimaksud dapat berupa pelayanan kebutuhan keuangan atau  perkreditan, kegiatan pemasaran atau kegiatan lain. Pada tingkatan ini biasanya koperasi menyediakan pelayanan kegiatan usaha yang tidak diberikan oleh lembaga usaha lain tidak dapat melaksanakannya akibat adanya hambatan  peraturan. Peran koperasi ini juga terjadi jika pelanggan memang tidak memiliki aksesibilitas pada pelayanan dari bentuk lembaga lain. Hal ini dapat dilihat pada  peran beberapa pada koperasi kredit dalam menyediakan dana yang relatif mudah  bagi anggotanya dibandingkan dengan prosedur yang harus ditempuh untuk memperoleh dana dari bank. Kedua, koperasi telah menjadi alternatif bagi lembaga usaha lain. Koperasi yang telah berada pada kondisi ini dinilai berada pada tingkat yang lebih tinggi dilihat dari perannya bagi masyarakat. Beberapa KUD untuk beberapa kegiatan usaha tertentu diidentifikasikan mampu memberi manfaat dan peran yang memang lebih baik dibandingkan dengan usaha lain, demikian pula dengan koperasi kredit.
 Ketiga, koperasi menjadi organisasi yang dimiliki oleh anggotanya. Faktor utama yang menyebabkan koperasi mampu bertahan pada berbagai kondisi sulit, yaitu dengan mengandalkan loyalitas anggota dan kesediaan anggota untuk  bersama-sama koperasi menghadapi kesulitan tersebut.

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.                  Apa saja teori pola manajemen dalam koperasi ?

1.3  TUJUAN PENULISAN
1.                  Untuk mengetahui apa saja teori pola manajemen dalam koperasi.

1.4  MANFAAT PENULISAN
Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah makalah ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membaca dan dapat dipergunakan sebagai salah satu referensi dalam mempelajari materi dari mata kuliah Ekonomi Koperasi.



BAB 2
PEMBAHASAN
2.1       Arti Modal Bagi Koperasi
Modal  merupakan sejumlah dana yang akan digunakan  untuk melaksanakan usaha – usaha Koperasi.Koperasi harus mempunyai rencana pembelanjaan yang konsisten dengan azas-azas Koperasi dengan memperhatikan perundang-undangan yang berlaku dan ketentuan administrasi. Modal koperasi adalah sejumlah dana yang digunakan untuk melaksanakan usaha-usaha koperasi. simpanan sebagai istilah penamaan modal koperasi pertama kali digunakan dalam UU 79 tahun 1958, yaitu UU koperasi pertama setelah kemerdekaan. Sejak saat itu sampai sekarang modal koperasi adalah simpanan, berbeda dengan perusahaan pada umumnya yang menggunakan istilah saham. Mungkin, istilah simpanan muncul karena kuatnya anjuran untuk menabung, dalam arti memupuk modal bagi rakyat banyak yang umumnya miskin agar memiliki kemampuan dan mandiri. Bahkan usaha koperasi nomor satu yang ditentukan UU adalah menggiatkan anggota untuk menyimpan. Mungkin tidak salah anggapan sementara orang bahwa UU koperasi lebih cocok untuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Memupuk modal dengan menyimpan adalah sangat tepat. Tetapi kerancuan pengertian dan permasalahan timbul ketika istilah simpanan dibakukan sebagai modal koperasi.
2.2       Sumber Modal Koperasi
Ada dua sumber modal yang dapat dijadiakan modal usaha koperasi yaitu :
a.       Secara Langsung Dalam mendapatkan modal secara langsung ini ada tiga cara klasik yang dapat dilakukan oleh para pengurus koperasi,yaitu :
·            Mengaktifkan simpanan wajib anggota sesuai dengan besar kecil penggunaan volume penggunaan jasa pelayanan koperasi yang dimanfaatkan oleh anggota tersebut.
·            Mengaktifkan pengumpulan tabungan para anggota.
·            Mencari pinjaman dari pihak bank atau non-bank dalam menunjang kelancaran operasional koperasi.
b.      Secara Tidak Langsung Modal yang didapat dari cara ini bukan merupakan modal yang langsung digunakan oleh koperasi tetapi mengambil manfaat dari kemampuan koperasi itu sendiri dalam rangka menekan biaya,caranya antara lain :
·            Menunda Pembayaran yang seharusnya dikeluarkan
·            Memupuk dana cadangan
·            Melakukan kerja Sama-Usaha
·            Mendirikan Badan-Badan Bersubsidi
2.2.1    Sumber-Sumber Modal Koperasi (UU NO.12/1967)
Simpanan Pokok
Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib disetorkan ke dalam kas koperasi oleh para pendiri atau anggota koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat ditarik kembali oleh anggota koperasi tersebut selama yang bersangkutan masih tercatat menjadi anggota koperasi.
Simpanan Wajib
Konsekuensi dari simpanan ini adalah harus dilakukan oleh semua anggota koperasi yang dapat disesuaikan besar kecilnya dengan tujuan usaha koperasi dan kebutuhan dana yang hendak dikumpulkan, arena itu akumulasi simpanan wajib para anggota harus diarahkan mencapai jumlah tertentu agar dapat menunjang kebutuhan dana yang akan digunakan menjalankan usaha koperasi.
Simpanan Sukarela
Adalah simpanan yang besarnya tidak di tentukan, tetapi bergantung kepada kemampuan anggota.Simpanan sukarela dapat di setorkan dan diambil setiap saat.
Modal Sendiri
Adalah modal yang berasal dari dana simpanan pokok,simpanan wajib, dan dana cadangan. Dana cadangan ialah sejumlah uang yang diperoleh dari sebagian hasil usaha yang tidak dibagikan kepada anggota. tujuannya adalah untuk memupuk modal sendiri yang dapat digunakan sewaktu-waktu apabila koperasi membutuhkan dana secara mendadak atau menutup kerugian dalam usaha. Fungsi cadangan: Menjaga Kemungkinan rugi dan memperkuat kedudukan finansial koperasi terhadap pihak luar (kreditor).
2.2.2    Sumber-Sumber Modal Koperasi (UU No.25/1992)
Modal Sendiri (Equity Capital)
Terdiri dari modal anggota, baik yang bersumber dari simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan-simpanan lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan simpanan pokok atau simpanan wajib, modal penyertaan, modal sumbangan, dana cadangan, dan SHU yang belum dibagi.
Modal Pinjaman (Debt capital)
a.       Pinjaman dari Anggota
Pinjaman yang diperoleh dari anggota koperasi dapat disamakan dengan simpanan sukarela anggota. Kalau dalam simpanan sukarela, maka besar kecil dari nilai yang disimpan tergantung dari kerelaan anggota. sebaliknya dalam pinjaman, koperasi meminjam senilai uang atau yang dapat dinilai dengan uang yang berasal dari anggota.
b.      Pinjaman dari Koperasi Lain
Pada dasarnya diawali dengan adanya kerja sama yang dibuat oleh sesama badan usaha koperasi untuk saling membantu dalam bidang kebutuhan modal. Bentuk dan lingkup kerja sama yang dibuat bisa dalam lingkup yang luas atau dalam lingkup yang sempit; tergantung dari kebutuhan modal yang diperlukan.
c.       Pinjaman dari Lembaga Keuangan
Pinjaman komersial dari lembaga keuangan untuk badan usaha koperasi mendapat prioritas dalam persyaratan. Prioritas tersebut diberikan kepada koperasi sebetulnya merupakan komitmen pemerintah dari negara-negara yang bersangkutan untuk mengangkat kemampuan ekonomi rakyat khususnya usaha koperasi.
d.      Obligasi dan Surat Utang
Untuk menambah modal koperasi juga dapat menjual obligasi atau surat utang kepada masyarakat investor untuk mencari dana segar dari masyarakat umum diluar anggota koperasi. Mengenai persyaratan untuk menjual obligasi dan surat utang tersebut diatur dalam ketentuan otoritas pasar modal yang ada.
e.       Sumber Keuangan Lain
Semua sumber keuangan, kecuali sumber keuangan yang berasal dari dana yang tidak sah dapat dijadikan tempat untuk meminjam modal.
2.3       Distribusi Cadangan Koperasi
Cadangan menurut UU No. 25/1992, adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan sisa hasil usaha yang dimasukkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.
Sesuai Anggaran Dasar yang menunjuk pada UU No. 12/1967 menentukan bahwa 25 % dari SHU yang diperoleh dari usaha anggota disisihkan untuk Cadangan , sedangkan SHU yang berasal bukan dari usaha anggota sebesar 60 % disisihkan untuk Cadangan. Banyak sekali manfaat distribusi cadangan, seperti contoh di bawah ini :
         1.         Memenuhi kewajiban tertentu
         2.         Meningkatkan jumlah operating capital koperasi
         3.         Sebagai jaminan untuk kemungkinan kemungkinan rugi di kemudian hari
         4.         Perluasan usaha















BAB 3
PENUTUP
3.1              KESIMPULAN
Manajemen Koperasi adalah suatu proses untuk mencapai tujuan melalui usaha bersama, berdasarkan azas kekeluargaan. Untuk mencapai tujuan perlu diperhatikan adanya sistem manajemen yang baik, agar tujuannya berhasil dengan diterapkannya fungsi-fungsi manajemen.


DAFTAR PUSTAKA